wrapper

Kadin: Industri Tekstil Di Jabar Dalam Bahaya Ilustrasi - Tekstil

BANDUNG - Kadin Jabar menempatkan kondisi industri di provinsi tersebut dalam posisi bahaya dihajar kondisi ekonomi makro yang terus melemah. Salah satu yang paling parah terdampak adalah industri tekstil.

Ketua Kadin Jabar Agung Suryamal Sutisno mengatakan posisi terakhir nilai tukar rupiah yang kini berada pada level di atas Rp 13.350 per dolar AS membuat dunia usaha di Jabar babak belur. Menurutnya, kondisi industri di Jabar berada pada level lampu kuning efek dari perkembangan ekonomi global.

"Sejak awal 2015, sekitar 6.300 karyawan industri tekstil dirumahkan. Penyebabnya, biaya produksi yang tinggi tanpa diimbangi kineja penjualan yang positif, Ini sudah lampu kuning," katanya di Bandung, Kamis (2/7/2015).

Menurutnya, momentum Ramadan dan Idulfitri saat ini pun pun tidak lagi mampu menjadi trigger penjualan terutama bagi industri tekstil Jabar yang selalu menjadi andalan. Agung melansir saat ini, terjadi penumpukan stok produk TPT di gudang-gudang seperti sarung.

Pihaknya memperkirakan volume sarung yang tak terserap pasar mencapai 2 juta kodi. Biasanya dua bulan sebelum Idulfitri, sarung-sarung habis terjual. Namun,saat ini, kondisinya tidak terserap pasar. "Efeknya, industri stop produksi. Karyawan pun diliburkan," katanya.

Situasi ini terjadi akibat daya beli masyarakat yang terus melemah. Selain itu, nilai tukar rupiah yang terus anjlok pun berkontribusi pada perkembangan ekonomi nasional saat ini. Padahal, keberlangsungan dunia usaha nasional sangat bergantung pada stabilitas rupiah.

Efek anjloknya rupiah bagi industri karena biaya produksi meninggi. Penyebabnya, karena 99%bahan baku industri di Jabar merupakan impor.

Selain itu, dolar AS pun menjadi acuan skema pembayaran bunga bank. "Sekitar 52% transaksi menggunakan dolar AS. Otomatis, pelemahan rupiah berpengaruh. Rumitnya, ekspor pun turut melambat, khususnya, batu bara," katanya.

Kadin sendiri meminta pemerintah mulai menunjukan terobosan lewat sejumlah kebijakan yang dapat menggairahkan kembali industri nasional.

Salah satunya mengganti tim ekonomi kabinet Jokowi-JK. “Kebijakan harus tepat, jangan terlihat grogi begini. Jangan sampai kita alami krisis ekonomi ke tiga,” katanya.

Ketua Harian Paguyuban Pengusaha Tekstil Majalaya (PPTM) Deden Suwega mengakui stok sarung yang menumpuk di gudang beberapa waktu lalu akibat penyerapan sarung yang hanya sedikit.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jabar Fery Sofwan mengaku pihaknya mengkhawatirkan daya beli masyarakat makin turun meski sudah menjelang lebaran.

Menurutnya, meski pekan ini akan diwarnai mulai cairnya THR pegawai swasta dan turunnya gaji ke-13 PNS, daya beli tidak akan signifikan.

“Masalahnya berbarengan dengan pendaftaran sekolah dan ajaran baru. Masyarakat tidak akan jor-joran, mereka harus menahan uang. Apalagi, lebaran mendekati akhir bulan. Masa uang sudah habis?”


Source: bisnis.com

Last modified on Saturday, 17 October 2015