wrapper

Persaingan menuju kursi Kadin 1 makin memanas. Sebagai catatan, ini adalah Kadin asli versi Surya Bambang Sulisto yang akan menyelenggarakan Munas pada 22 November mendatang di Bandung, bukan versi Rizal Ramli-OSO.

Dua tokoh kuat yang terlibat dalam pemilihan Kadin ini adalah Maxi Gunawan dan RPR.  Suara dalam pemilihan ini akan banyak dikuasai oleh Kadin Daerah dan beberapa tambahan asosiasi.  Kedua calon punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing yang akan penulis bahas di artikeel ini.

Maxi Gunawan mewakili kekuatan pendukung pemerintah, dalam hal ini ia adalah Ketua Dewan Pertimbangan NasDem. Walau lebih senior, usahanya mewakili berbagai sektor yang kini digandrungi anak muda, seperti media digital, kuliner, olahraga. broadcasting, musik, dan gaya hidup. Siapa yang tak kenal dengan band Bigman Robinson yang terkenal jadi raja pesta Jakarta di tahun 70an? Maxi Gunawan adalah salah satu otak penggeraknya. Namun tak perlu juga cemas jika figurnya terlihat "terlalu kreatif" atau "urakan". Maxi Gunawan justru sangat berpengalaman di bidang yang "serius", antara lain di bidang perbankan, trading minyak, dan politik. Kelemahannya, dalam kampanye ia terlihat lebih low profile dari RPR. Maxi Gunawan lebih menekankan diskusi dan meminta masukan kepada kadin daerah yang jelas punya porsi suara paling banyak dalam pemilihan.

Rosan lebih agresif. Ia banyak mengadakan kemeriahan perayaan dalam menarik minat para pemilik suara. Ia juga banyak menyuarakan dan mendapat klaim dukungan dari Indonesia timur, yang memang banyak menjadi basis suara Golkar, yang notabene dikuasai Bakrie, yang banyak menjadi sekutu bisnisnya. Ia juga sempat diberitakan aktif di dunia olahraga dengan ikut dalam kepemilikan Eric Thohir atas Inter Milan (namun kemudian info ini jadi simpang siur). Namun RPR tak dapat menutupi imbas manajemen hutang Bumi Plc yang dulu ikut diaturnya. Kini Rosan harus menghadapi keputusan arbitrase di Singapura, yang memaksanya untuk mengembalikan $173 juta dollar ke Asia Resource Mineral.

Bagaimanapun, kedua calon pastilah punya kelebihan masing-masing dan yang berhak menentukan tentunya anggota Kadin Daerah dan Asosiasi yang memiliki pembagian suara secara proporsional. Tiap pengusaha tentu punya agendanya masing-masing, dan akan memilih sesuai pertimbangan masing-masing.

Yang kita bisa lakukan hanyalah berdoa, agar yang terpilih adalah yang terbaik, yang mampu menyuarakan jeritan hati dunia usaha di Indonesia. Karena selama ini memang kadin dirasa kurang proaktif dalam agenda project pemerintahan. Sering pengusaha daerah hanya melongo saat pengusaha dari pusat atau asing mendapat banjiran proyek yang seharusnya dinikmati bersama-sama untuk kemajuan yang merata di seluruh Indonesia. Karena itulah para calon, misalnya, mendorong dan menjanjikan peran aktif pengusaha daerah.

Agar kemajuan itu bisa merata, agar kita tak seperti anak ayam yang mati di lumbung padi. Padahal Kadin inilah organisasi resmi dan didukung Undang-Undang yang bisa menjadi wadah dan perwakilan pengusaha kita.


Sumber: kompasiana.com

Last modified on Tuesday, 27 October 2015